Tumbuh dan berkembang di antara pertikaian sesama keluarga, teman dan kawan bisnisnya. Ia merancang nasib sebagai musisi dan mengajak teman-temannya untuk membentuk band yang akhirnya sukses berat di era 90an, Nirvana. Pria yang kemudian menikah dengan Courtney Love (vokalis/gitaris Hole) ini kerap membuat resah dan merepotkan orang-orang di sekitarnya. Bersama Nirvana, Kurt memang telah mencapai hasil brilian dengan menciptakan karya-karya yang jenius, artistik dan sukses di pasaran. Sayang hal tersebut berbanding terbalik dengan segala keluhan dan kebenciannya terhadap industri, interaksi sosial, masa depan, sakit perutnya yang akut, atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Mati muda sepertinya adalah rancangan yang selalu membayangi ayah dari Frances Bean ini di setiap karya lirik, lukis dan catatan-catatannya. Pernah ia menulis, ” Seperti Hamlet, aku harus memilih antara kehidupan dan kematian.”, atau sepenggal liriknya di Pennyroyal Tea, ” Give me a Leonard Cohen afterworld, so I can sigh eternally.” Di saat tertentu adiksinya terhadap obat-obatan telah mencapai dosis maksimal. Sekejap kemudian kegelisahannya telah menjadi pekat. The drugs don’t work. Hingga akhirnya satu hari ia memutuskan untuk memutar album Automatic For The People-nya REM, menelan obat penenang, menyuntikkan heroin dan menarik pelatuk senapan yang tepat mengarah ke langit-langit mulutnya. Damai, cinta, empati, dan dor!… Kurt Cobain telah memilih bergabung dengan Hendrix, Joplin serta Morisson yang juga ’selesai’ di usia 27 tahun. Editor majalah The Rocket dan jurnalis musik asal Seattle, Charles R Cross melukiskan perjalanan hidup Kurt Cobain secara lengkap lewat riset selama empat tahun, 400 wawancara, dan catatan dokumen penting lainnya. Heavier Than Heaven yang pertama kali diterbitkan oleh Hodden and Stoughton pada tahun 2001 ini telah menjadi salah satu buku terlaris tentang kehidupan seorang rockstar. Selama membaca buku ini anda mungkin akan tertarik dan larut. Sekilas akan merasa dekat dan mengenal sosok fenomenalnya – bahkan bagi yang belum mengenal nama Kurt Cobain sekalipun. Bagi mereka yang hidup di scene musik, rasanya tidak terlalu asing dengan sikap kontroversial yang dimiliki Kurt atau temen-temannya di Nirvana. Proses penceritaan yang runut dan mengalir menjadikan bacaan ini lebih menarik serta sulit untuk dihentikan. Kredit positif bagi penerbit Alinea yang telah merilisnya dalam versi bahasa Indonesia untuk pasar nasional. Buku ini telah mencapai penggambaran yang sempurna untuk sebuah kontroversi mengenai realita hidup, drugs dan rock n’ roll. Suatu pengalaman seorang musisi berbakat yang memiliki dua gairah utama ; Kesuksesan serta Kesedihan. Dan rupanya ia telah berhasil membunuh keduanya. Well, Heavier Than Heaven adalah kisah dan pelajaran hidup yang tidak bisa ditolak mudah hanya dengan sebuah ucapan ‘Nevermind’…
Selasa, 31 Agustus 2010
Hidup Jadi Idola,Mati Jadi Legenda
Tumbuh dan berkembang di antara pertikaian sesama keluarga, teman dan kawan bisnisnya. Ia merancang nasib sebagai musisi dan mengajak teman-temannya untuk membentuk band yang akhirnya sukses berat di era 90an, Nirvana. Pria yang kemudian menikah dengan Courtney Love (vokalis/gitaris Hole) ini kerap membuat resah dan merepotkan orang-orang di sekitarnya. Bersama Nirvana, Kurt memang telah mencapai hasil brilian dengan menciptakan karya-karya yang jenius, artistik dan sukses di pasaran. Sayang hal tersebut berbanding terbalik dengan segala keluhan dan kebenciannya terhadap industri, interaksi sosial, masa depan, sakit perutnya yang akut, atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Mati muda sepertinya adalah rancangan yang selalu membayangi ayah dari Frances Bean ini di setiap karya lirik, lukis dan catatan-catatannya. Pernah ia menulis, ” Seperti Hamlet, aku harus memilih antara kehidupan dan kematian.”, atau sepenggal liriknya di Pennyroyal Tea, ” Give me a Leonard Cohen afterworld, so I can sigh eternally.” Di saat tertentu adiksinya terhadap obat-obatan telah mencapai dosis maksimal. Sekejap kemudian kegelisahannya telah menjadi pekat. The drugs don’t work. Hingga akhirnya satu hari ia memutuskan untuk memutar album Automatic For The People-nya REM, menelan obat penenang, menyuntikkan heroin dan menarik pelatuk senapan yang tepat mengarah ke langit-langit mulutnya. Damai, cinta, empati, dan dor!… Kurt Cobain telah memilih bergabung dengan Hendrix, Joplin serta Morisson yang juga ’selesai’ di usia 27 tahun. Editor majalah The Rocket dan jurnalis musik asal Seattle, Charles R Cross melukiskan perjalanan hidup Kurt Cobain secara lengkap lewat riset selama empat tahun, 400 wawancara, dan catatan dokumen penting lainnya. Heavier Than Heaven yang pertama kali diterbitkan oleh Hodden and Stoughton pada tahun 2001 ini telah menjadi salah satu buku terlaris tentang kehidupan seorang rockstar. Selama membaca buku ini anda mungkin akan tertarik dan larut. Sekilas akan merasa dekat dan mengenal sosok fenomenalnya – bahkan bagi yang belum mengenal nama Kurt Cobain sekalipun. Bagi mereka yang hidup di scene musik, rasanya tidak terlalu asing dengan sikap kontroversial yang dimiliki Kurt atau temen-temannya di Nirvana. Proses penceritaan yang runut dan mengalir menjadikan bacaan ini lebih menarik serta sulit untuk dihentikan. Kredit positif bagi penerbit Alinea yang telah merilisnya dalam versi bahasa Indonesia untuk pasar nasional. Buku ini telah mencapai penggambaran yang sempurna untuk sebuah kontroversi mengenai realita hidup, drugs dan rock n’ roll. Suatu pengalaman seorang musisi berbakat yang memiliki dua gairah utama ; Kesuksesan serta Kesedihan. Dan rupanya ia telah berhasil membunuh keduanya. Well, Heavier Than Heaven adalah kisah dan pelajaran hidup yang tidak bisa ditolak mudah hanya dengan sebuah ucapan ‘Nevermind’…
Diposting oleh Kurt Cubenk di 16.48 0 komentar
Biography Kurt Cobain


Soon, Cobain was being called one of the best songwriters of his generation. Segera, Cobain sedang disebut sebagai salah satu penulis lagu terbaik dari generasinya. This along with the rapid rise of the group put pressure on the talented and sensitive 24-year-old. Hal ini seiring dengan meningkatnya kelompok menekan berbakat dan sensitif 24 tahun. Cobain began to worry about how his music was being received and how to regain control of a seemingly uncontrollable future. Cobain mulai khawatir tentang bagaimana musik yang diterima dan bagaimana untuk mendapatkan kembali kendali atas masa depan yang tampaknya tak terkendali. He had started using heroin in the early 1990s. Dia telah mulai menggunakan heroin pada awal 1990-an. The drug provided an escape as well as some relief for his chronic stomach problems. Memberikan obat melarikan diri serta beberapa bantuan untuk masalah perut kronis.
(1967–1994)
Before Nevermind ’s release, Cobain met up again with Courtney Love, now the lead singer and guitarist with Hole, at an L7 concert in Los Angeles. Sebelum Nevermind ’s release, Cobain bertemu lagi dengan Courtney Love, sekarang vokalis dan gitaris dengan Hole, di sebuah L7 konser di Los Angeles. She was friends with Jennifer Finch, a member of the band who was also dating Dave Grohl at the time. Ia berteman dengan Jennifer Finch, seorang anggota band yang juga berpacaran Dave Grohl pada saat itu. Later that year, Cobain and Love started a whirlwind relationship that included letters, faxes, and numerous phone calls as the two were traveling with their respective bands. Belakangan tahun itu, Cobain dan Cinta memulai hubungan angin puyuh yang meliputi surat, fax, dan banyak panggilan telepon sebagai dua orang bepergian dengan band masing-masing. In February 1992, they got married and welcomed their daughter Frances Bean Cobain in August of that year. Pada bulan Februari 1992, mereka menikah dan menyambut putri mereka, Frances Bean Cobain pada bulan Agustus tahun itu. Both Cobain and Love were into drugs and often used together. Baik Cobain dan Cinta itu menjadi obat-obatan dan sering digunakan bersama-sama. They found themselves being investigated by social services after Love told Vanity Fair that she had taken heroin while pregnant. Mereka menemukan diri mereka sedang diselidiki oleh pelayanan sosial setelah Cinta kepada Vanity Fair bahwa dia telah mengambil heroin saat hamil. After a costly legal battle, Cobain and Love were able keep custody of their daughter. Setelah pertempuran hukum yang mahal, Cobain dan Cinta mampu mempertahankan hak asuh putri mereka.
On a break during the tour, Cobain spent some time in Europe with his family. Pada istirahat selama tur, Cobain menghabiskan beberapa waktu di Eropa bersama keluarganya. On March 4, 1994, while in his hotel room in Rome, Italy, he attempted suicide by taking an overdose of drugs. Love woke up and discovered that Cobain was in trouble. On March 4, 1994, sedangkan di kamar hotelnya di Roma, Italia, ia mencoba bunuh diri dengan mengambil overdosis narkoba. Love bangun dan menemukan bahwa Cobain dalam kesulitan. He was rushed to the hospital in a coma. Dia dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma. While official reports said that it was accidentally overdose, Cobain had clearly meant to kill himself, having left a suicide note. Sementara laporan resmi mengatakan bahwa itu sengaja overdosis, Cobain telah jelas dimaksudkan untuk bunuh diri, setelah meninggalkan catatan bunuh diri.
(1967-1994)

Diposting oleh Kurt Cubenk di 05.03 0 komentar
Senin, 30 Agustus 2010
NEVERMIND ( Nirvana mengejutkan dunia serta diri mereka sendiri )

The Classic Albums series celebrates the impression left by this monumental album with the release of “the definitive authorized story” behind the masterpiece. Seri Classic Album merayakan kesan yang ditinggalkan oleh album ini monumental dengan merilis "cerita resmi definitif" balik karya tersebut. The trio from small town Washington state blindsided an industry and toppled the “King of Pop” from the top of the charts, with a vision and without compromise. Trio dari negara kota kecil Washington mengejutkan industri dan menggulingkan "Raja Pop" dari puncak tangga lagu, dengan visi dan tanpa kompromi.
Nevermind – Classic Albums features interviews with the surviving band members, producer Butch Vig, members of the DCG promotions team, and representatives from Sub Pop records. Nevermind - Classic Album fitur wawancara dengan anggota band yang masih hidup, produser Butch Vig, anggota tim promosi DCG, dan perwakilan dari Sub Pop catatan. Collectively, they deconstruct the creation of the landmark album and give insight on the luminary, Kurt Cobain, who touched millions of dysfunctional and disillusioned youths. Secara keseluruhan, mereka mendekonstruksi penciptaan album landmark dan memberikan wawasan pada orang termasyhur, Kurt Cobain, yang menyentuh jutaan pemuda disfungsional dan kecewa. They delve deeper into the architectural design Kurt envisioned for the album by describing how Kurt's vocals acted as a glue to bring the tracks together by utilizing their sounds even more so than their meanings, all along focusing on a child-like simplicity. Mereka mempelajari lebih dalam desain arsitektur Kurt membayangkan untuk album ini dengan menjelaskan bagaimana vokal Kurt bertindak sebagai perekat untuk membawa trek bersama-sama dengan memanfaatkan suara mereka bahkan lebih daripada makna mereka, sepanjang memfokuskan pada kesederhanaan anak-seperti.
Producer Butch Vig disassembles segments of Nevermind track by track, exposing the band's nakedness. Produser Butch Vig disassembles segmen jalur Nevermind oleh lagu, band mengekspos ketelanjangan itu. Vig illustrates how the band used overdubs and doubling vocal tracks to create a heaviness that would effectively mask the hookiness and base pop foundation of the album. Vig menggambarkan bagaimana band yang digunakan overdub dan menggandakan lagu vokal untuk membuat berat yang secara efektif akan topeng hookiness dan dasar pondasi pop dari album. In essence, this created a subliminal pop sound that made the tracks radio friendly. Pada dasarnya, ini menciptakan sound pop subliminal yang membuat radio trek ramah.
Live footage of key tracks such as “Lithium,” “Polly,” “Drain You,” and “Smells Like Teen Spirit” compliment the various interviews. Live cuplikan trek kunci seperti "Lithium," "Polly," "Drain Anda," dan "Baunya Seperti Teen Roh" pujian berbagai wawancara. Bonus features include the breakdown of “Drain You,” the story of Dave Grohl joining the band, “Polly” live in concert, and the design of the album sleeve. fitur Bonus termasuk rincian "Drain Anda," kisah Dave Grohl bergabung dengan band ini, "Polly" tinggal di konser, dan desain lengan album.
Nirvana was about the music, only dedicated to creating an album that “sounded good.” They had no ambition or desire to write an album that would support the creation of a new genre or change an industry. Nirvana adalah tentang musik, hanya didedikasikan untuk menciptakan sebuah album yang "terdengar baik" Mereka tidak punya ambisi atau keinginan untuk menulis sebuah album yang akan mendukung terciptanya sebuah genre baru atau mengubah industri.. Nirvana surprised the world as well as themselves. Nirvana mengejutkan dunia serta diri mereka sendiri.
Diposting oleh Kurt Cubenk di 03.33 0 komentar
Dave Grohl
Lalu pada tahun 1997, meluncurlah album kedua The Colour and The Shape,
diwarnai hengkangnya dua personil awal, William Goldsmith dan Pat Smear, dengan alasan yang berbeda. Keduanya digantikan Taylor Hawkins (drum, pernah menjadi drummer tur Alanis Morisette) dan Franz Stahl (teman band Pat Smear sebelum di Foo Fighters). Album ini juga penulis miliki karena apresiasi yang baik penulis atas debut album mereka. Album yang masih menyimpan daya tarik seperti debut album.
Pada tahun 1999, dirilis album There Is Nothing To Loose, dengan menyisakan hanya tiga personil setelah Franz hengkang karena ketidakcocokan. Album ini melahirkan hit Learn To Fly yang memenangkan Grammy Awards. Penulis lupa apakah penulis miliki juga album ini, karena bekasnya tidak ada. Dan band pun mengikat gitaris tur mereka, Chris Shiflett sebagai anggota tetap dan mulai berpartisipasi di album keempat.
Akhir tahun 2001, band ini merekam album keempat mereka. Tapi Grohl sempat menghabiskan sebagian waktunya menjadi drummer band Queens Of Stone Age (QOSA), dan ikut serta merampungkan album QOSA berjudul Songs For The Deaf, yang membuat rumor atau isu ketidakberlanjutan Foo Fighters. Tapi akhirnya album baru Foo pun keluar dengan judul One by One, yang menurut Grohl hanya empat lagu saja dari album One by One yang disukainya. Dan tujuh lainnya takkan dimainkan sepanjang hidupnya....(duh, lagu jelek koq direkam?). Album ini penulis punyai, tapi tidak begitu tinggi airplay-nya di tip rekorder penulis.
Disibukkan oleh tur, Foo merekam album kelima, yang dirilis pada 2005 berjudul In Your Honor. Album ini menelurkan hit Best Of You dan DOA. Untuk menyokong peredaran In Your..., Foo mengadakan tur akustik dalam waktu singkat pada musim panas 2006. Tur ini juga menyertakan former member Pat Smear sebagai ekstra gitaris. Wow, tiga gitaris dalam satu panggung? Pada 2006 juga Foo merilis album rekaman dari live performance mereka, Skin and Bones.
Echoes, Silence, Patience & Grace, dirilis pada September 2007. Lagu The Pretender diluncurkan lebih awal pada Agustus, hit yang bertahan 18 minggu di top Modern Rock chart Billboard. Album ini terasa lebih keren dari album-album sebelumnya. Boleh dibilang inilah puncak album Foo. Lagunya keren-keren. Long Road To Ruin dan Let It Die ,berturut turut menjadi kesukaan penulis. Penulis malah sempat memberi rating album ini 3.5 of 5 stars, itu sudah bagus lho....
Secara mengejutkan dalam sebuah acara TV, Dave Grohl mengumunkan bahwa Foo akan “istirahat” sampai waktu yang tidak ditentukan, tapi Foo masih mengadakan serangkaian tur untuk memenuhi kontrak yang telah dibuat sebelumnya. Dilanjutkan dengan rilis album bertitel “Greatest Hits” makin memperkuat ketidakjelasan akan kelanjutan band ini. Sungguh disayangkan....
Selain sibuk bermusik, ternyata Foo pun mempunyai ketertarikan akan hal lain, seperti berpolitik seperti ikut mendukung kampanye John Kerry (itu lho, calon presiden Amerika Serikat) pada tahun 2004 dan ikut serta dalam kampanye Alive & Well, suatu organisasi yang menyangkal keterkaitan HIV dengan AIDS pada tahun 2000. Terlepas dari kontroversi keikutsertaan Foo mendukung Alive & Well pada tahun 2000, patut dicermati bahwa sebuah band tak harus selalu berkurung dalam sangkar emasnya. Ia tak bisa lepas dari lingkungan sekitarnya. Dan umumnya mereka (artis Amerika) terang-terangan mendukung (suatu organisasi). Bukan seperti di Indonesia, artis atau band malu-malu mendukung (suatu organisasi) atau menjadi aktivis. Kalau mereka diminta, baru deh mereka mau buka suara atau memberi dukungan (terhadap suatu organisasi). Walaupun tidak semuanya artis atau band Indonesia begitu.... Ini bukan soal sok ke barat-baratan. Ini kenyataan....
Diposting oleh Kurt Cubenk di 02.58 0 komentar
Minggu, 29 Agustus 2010
,,,:::Nirvana :::,,,
Penampilan perdana Kurt dan Krist terjadi pada bulan Maret 1987 yang sekaligus menasbihkan formasi awal Nirvana yang terdiri atas Kurt Krist dan seorang penabuh drum bernama Aaron Burkhard Waktu itu mereka belum memakai nama Nirvana ada banyak nama yang mereka pakai pada awal karir mereka dan mereka memakainya bergantian di setiap konser.


Diposting oleh Kurt Cubenk di 16.20 0 komentar
Kisah Kurt Donald Cobain
Kisah hidup Kurt Cobain, vokalis kelompok Nirvana yang oleh majalah Rolling Stones dimasukkan ke dalam kategori 50 artis terbaik sepanjang masa, berakhir dengan tragedi bunuh diri. Hal itu dipaparkan dengan baik dalam buku Heavier Than Heaven; Biografi Kurt Cobain. Melalui buku itu, Charles R Cross ingin mengatakan bahwa
Diposting oleh Kurt Cubenk di 15.15 0 komentar
Sejarah Grunge
Diposting oleh Kurt Cubenk di 14.42 0 komentar